Custom Search

KUNJUNGI JUGA :

Blog Radiografer Indonesia

02 July 2010

Cerita Tangkil Pada Puncak Karya Tamblingan



Sabtu lalu 26 juni 2010 bertepatan dengan purama kasa adalah puncak karya pemlaspasan dan piodalan di Pura Penataran Tamblingan. Dari jauh hari kami Yowana Paramarta Maha Semaya Warga Pande telah mempersiapkan agenda untuk ngayah dan tangkil bersama. Mulai dari jadual tangkil hingga dana punia yang akan diberikan telah kami koordinir, tujuannya tidak lain agar karya tersebut dapat berjalan dengan sukses. Berikut sedikit cerita tangkil hari itu.

Awalnya saya hendak berangkat berdua dengan adik saja pagi jam 8, tetapi last minute akan berangkat istri beserta anak memutuskan untuk ikut, jadilah kami menunggu dia untuk bersiap-siap, lumayan lama juga kami menunggu, tau sendiri kan bagaimana rekasi perempuan kalau sudah bertemu make up, cermin dan baju. Sebelumnya istri saya memang mengatakan tidak ikut menemani tangkil pada puncak karya karena neneknya meninggal persis dua hari kemarin, cuntaka jelasnya, okelah saya tidak memaksa sebab melalui konsultasi dengan senior cuntaka dapat melalui perasaan berkabung walaupun seseorang telah mepamit dari sanggah. Tepat kemarin malam jenasah neneknya telah dikubur, hari ini mungkin perasaannya lebih enak jadi dia memutuskan untuk ikut tangkil.

Kira-kira jam 9.00 kami meninggalkan Denpasar bertolak menuju Tamblingan. Menginjak daerah Baturiti cuaca berubah menjadi berkabut dan hujan yang lumayan deras hingga memaksa saya melarikan kendaraan pelan-pelan karena jarak pandang sangat terbatas. Cuaca begini tidak berubah hingga bedugul terlewati. Memasuki perbatasan danau Buyan dan Tamblingan disekitar daerah wanagiri hujan dan kabut mulai reda hingga benar-benar cerah dan kering begitu kami menginjak daerah Danau Tamblingan.

Tiba di parkir depan Pura sekitar pukul 11, suasana telah penuh sesak oleh pemedek, pedagang kaki lima berjejer mengelilingi pinggir parkir, suara gong dan kidung bertalu bersahut-sahutan. Istri yang kelupaan membawa dupa lalu membeli di salah satu pedagang, lumayan murah harga per satu bungkus kertas Rp 500, kalo di Denpasar segini mungkin seribuan.

Masuk melalui pintu utama tak lupa memercikan tirta pengelukatan sebagai sarana pebersihan sebelum masuk tempat suci. Acara saat itu adalah suguhan tari Baris, dilanjut dengan persembahyangan. Yang unik dari sembahyang kali ini adalah muspanya sebanyak kurang lebih 8 kali dan bunga saat muspa ke empat harus berwarna merah lalu selesai muspa bunga tersebut harus dikumpulkan untuk selanjutnya dibakar di prapen pura abunya untuk dicolek di kening.

Oh iya hampir lupa cerita, saya juga bertemu semeton yowana Dego Pande Suryantara aktu di dalam Pura, memang sebelumnya kita janjian untuk datang pagi hari ini, saya ditugaskan untuk foto-foto dan Dego humas Group Facebook Warga Pande Bali, dari sepanjang perjalanan Dego kerap menelpon bertanya saya sudah sampai mana dan meminta saya segera sampai karena rentetan acara akan dimulai atau bahkan sudah dimulai. Bahkan dia cerita kalau sempat membagi-bagikan alamat email ke pemedek yang kebetulan memfoto-foto acara agar hasil fotonya dibagi-bagi ke emailnya karena dia tidak membawa kamera.

Iseng-iseng sebelum pulang kami mencicipi hidangan yang dijajakan pedagang disini. Saya pilih tipat tahu, istri nyoba bakso, dia memang suka banget bakso. Seporsi tipat tahu harganya 4000 rupiah, rasanya sama dengan tipat tahu pakai rombong yang biasa keliling perumahan, untuk bakso rasanya tidak terlalu enak, tandanya masih ada sisa dalam mangkok bakso istri saya, harganya 7000 rupiah, cukup mahal untuk rasa bakso seperti itu.

Pukul 14.00 kita pamit dari Pura dan langsung menuju Denpasar. Singgah sebentar untuk foto-foto di pertigaan Gobleg. Viewnya betul-betul sempurna. Sekitar pukul 16.15 kita tiba di rumah.


BACK

Baca Juga Yang Ini



No comments:

Post a Comment