Custom Search

KUNJUNGI JUGA :

Blog Radiografer Indonesia

21 June 2010

Ngayah ke Tamblingan episode ke 2



Sembari mengomentari status FB semeton Pande yang menggunung dan derasnya hujaman notification, saya menulis catatan perjalanan ngayah yang kedua kalinya ini. Sangat sulit memang, apalagi ditambah jumlah pasien yang lumayan, ya betul saya menulisnya sambil kerja malam, akhirnya saya memerlukan dua hari untuk menyelesaikannya.

Sebelumnya sempat ada kabar pelaksanaan ngayah ini akan diundur karena semeton yang tangkil tidak banyak, terbukti reaksi Facebook sepi dan datar, akan tetapi last day akan berangkat semua dapat approve dan confirm untuk jadi berangkat, legalah rasanya untuk mengikuti acara besok karena yakin ada timpal disana yang diajak, dan memang kenyataannya membuat kita bahagia, yang datang jauh lebih banyak dari perkiraan.

Pagi hari pukul 7 saya sudah berjaga dengan dress yang mantap (setidak-tidaknya menurut saya) untuk menunggu adik yang rencananya akan datang menghampiri, kita janjian berangkat bareng kemaren malam. Sejak saya menikah kami pisah tempat tinggal, saya bersama keluarga kecil dan dia sama bapak dan ibunya (bapak ibu kita kale). Sampai setengah jam saya tunggu sambil ngupi dan ngempu orang ini tidak tampak batang hidungnya. Akhirnya jam 8 kurang dikit dia muncul tergopoh-gopoh menjelaskan kalo motornya mogok dan memang saat menuju kesini dia memakai motor bapak.

Segera kita berangkat dengan sedikit ngebut, tujuan pertama Candikuning menghampiri semeton yang stand by di Pura Ulun Danu Beratan, sepanjang jalan lalu lintas normal, namun sedikit padat mungkin karena hari ini hari minggu, biasanya dipake orang kota melali ke Budugul untuk rekreasi. Ditengah perjalanan kami mampir sebentar di sebuah minimarket di daerah Baturiti untuk apdet status (halah), dan beli stok makan siang dan minum karena memang sesuai arahan koordinator kita harus mandiri masalah perut sendiri-sendiri (setuju untuk ini), Saya pilih makan siang yang rada western dikit yaitu roti dan minuman kaleng.

Di Candikuning terlihat Dego dengan dua pendamping bajang jegeg yang saya tahu salah satunya Ryae Pande dan satunya lagi saya belum kenal, oh namanya Intan, jadi jelas setelah kita kenalan. Dego rupanya sedang menunggu Yande Putrawan dan Pande Bali yang lewat telpon bilang lagi beli ambu dan peralatan ngayah. Karena hari menginjak siang dan mulai sedikit panas, kami memutuskan berangkat duluan menuju lokasi nanti biar disusul mereka, kasian dua bajang jegeg yang diajak Dego mulai kegerahan (ngeles..padahal pingin cepet moto-moto danau).

Melewati jalan di atas danau Buyan saya tidak sabar ingin mengabadikan view menakjubkan yang tidak tiap hari bisa dilihat kalo lagi di kota (sok kota). Saya menepi di pinggiran jalan yang agak lapang sembari mengkode Dego untuk duluan saja. 10 menit kami foto-foto dan ngajumang ilmu jepret yang aslinya ga seberapa pintar, untuk hasilnya dapat dilihat di facebook, silahkan jika ingin berkunjung dan kasi komentar. Adik saya juga bercerita tentang jalan setapak dari Danau Buyan yang bisa tembus hingga danau Tamblingan, dia bahkan menunjukan arah-arahnya. Waktu SMA dia ekstra pencinta alam dan sering hiking dengan temen-temennya. Tidak ingin berlama-lama dan buang waktu perjalanan kami lanjutkan.

Sampailah paving blok yang merupakan jalan akses ke Danau Tamblingan. Saya bertemu Yande yang kebelet pipis, dia berada tepat di belakang kendaraan kami dan di depan ada truk sarat muatan bambu dengan tujuan yang sama. Truk memberi kami jalan duluan karena mereka tentu akan sangat lambat melawati jalan tanah berbatu itu (bijaksana banget pak Supir truk). Tidak sampai 10 menit jalan berbatu tersebut menunjukan ujungnya yaitu Pura Penataran Pande Tamblingan, tujuan kami dari awal.

Disana rupanya semeton Yowana Paramarta telah banyak yang duluan sampai, mereka bahkan telah bekerja mengolah bambu dikomandani oleh bli Pande Tamanbali. Dalam kerumunan terlihat juga bli Pande Baik dan rombongan, segera kami hampiri senior dan tukang kompor saya ngeblog itu. Kami ngobrol sebentar kemudian perhatian tertuju pada semeton Yowana dari Peliatan Ubud, kami kagum dan salut melihat kerja mereka, betul-betul menunjukan dedikasi tinggi terhadap warga (kasi jempol untuk bli Tamanbali dan pasukan). Tidak lama dengan bli Pande Baik saya lalu keliling untuk foto-foto, sok fotografer ceritanya sambil baca-baca buku karya Maha Semaya Warga Pande (MSWP) sambil mendengar cerita pak Dedes ketua MSWP saat ini

Matahari tak terasa telah sampai diatas ubun-ubun, pak Dedes memerintahkan untuk stop kerja dan segera makan siang di pewaregan. Sedikit malu-malu saya pergi ke pewarega beserta semeton semua. Makan siang dibuat oleh truni bajang jegeg semeton Pande, rasanya mantap dilidah saya, namun beberapa rekan bilang sambalnya sangat pedas, menurut mereka sangat cocok untuk udara dingin seperti disini, yang anget kan bibir doang,badan sih tetep kalo makan sambel gitu saya menimpali.

Selesai makan siang ada dialog yang di pimpin oleh pak Dedes, intinya tentang pembentukan Pura ini dan cerita dibelakangnya. Saya kurang terlalu mendengarkan, selain telat masuk ruang diskusi karena disuru jepret-jepret bajang jegeg di dapur juga duduk saya paling belakang sangat jauh dari pembicara. Pkir saya ah tunggu aja nanti tulisan bli Pande Baik atau Yande Putrawan

Kira-kira pukul 14.00 dialog selesai, lalu kami dipersilahkan mempmit jika ingin segera meninggalkan lokasi. Saya memilih untuk pergi ke pinggir danau karena dari atas jalan tempo hari dan tadi saya melihat ada pura di ujung danau ini, saya ingin tau pura apa kira-kira? Jalan menuju kesana masi berupa jalan setapak, tanah basah. Sebelum sampai ke pura tadi, banyak orang asli sana yang mancing dipinggir jalan oh rupanya ini spot mancing orang sini, dari sana saya naik sedikit sampailah ke pura tanpa papan naman itu. Saya jeprat-jepret sedikit untuk dokumentasi lalu saya segera balik. Keberadaan Pura tersebut saya tanyakan kepada pak Dedes, beliau bilang pura tadi adalah Pura Dalem Tambingan, what pura Dalem? saya terkejut, karena pura Dalem adalah pura tempat memuja Dewa Siwa dan biasanya ada di pinggir datau dekat kuburan (setra.

Pukul 14.15 saya bertolak ke Denpasar. Di Pasar bedugul jalanan macet penyebabnya apalagi kalo bukan orang mau belanja parkir sembarangan. Adik saya sempat menghardik seorang supir yang bikin macet karena kendaraannya parkir terlalu ketengah dari badan jalan. Pukul 16.15 saya sampai di rumah tanpa oleh-oleh hanya membawa cerita dan foto.

Hasil foto dapat dilihat di album Facebook saya. Kapan-kapan saya taruh sebagian disini, namun untuk sekarang cukup segini dulu, bentar lagi saya mau kerja.
BACK

Baca Juga Yang Ini



3 comments:

  1. miiih kayang yande kebelet pipis juga masuuuk puk...

    ReplyDelete
  2. Pertama, Tulisannya mantap... Lengkap sedari awal perjalanan hingga ngayah dalam satu tulisan.
    Kedua, agar diperhalus sedikit kata yang digunakan. Contoh paragraf 9, 'memerintahkan bisa diganti dengan 'menghimbau misalnya...
    Ketiga, kata ganti mungkin bisa dipertimbangkan lain kali mengganti kita dengan kami. Beda makna bukan ? kita artinya penulis dan pembaca ikut terlibat didalamnya. hehehehe...
    Keempat, YANDE kebelet pipis ? ngapain aja di Mobil ??? *menyulut api yang sudah mulai padam... :p

    ReplyDelete