Custom Search

KUNJUNGI JUGA :

Blog Radiografer Indonesia

12 October 2008

Mengenang kembali Bom Bali 6 Tahun Lalu


Image Hosting by Picoodle.com
Saya tidak akan pernah lupa hari itu, sekitar jam 11 malam tanggal 12 Oktober 2002 ketika sedang asyik menghadiri Bazar di banjar Sedana Merta Ubung Denpasar, saya mendengar gemuruh seperti kucing mengejar tikus di atas eternit, grudug grudug begitu suaranya lumayan keras tapi masih terkalahkan oleh dentum stereo yang diputar pemuda sini. Saya tidak menanggapi gemuruh tersebut karena saya pikir tidak terlalu penting malam ini, berselang 10 menit kemudian kawan saya yang kerja di Shooters cafe seminyak mengabarkan lewat SMS bahwa ada Bom Meledak di Legian mungkin di Bounty Cafe atau sekitarnya begitu terka kawan saya itu.

Sepulang dari Bazar saya hidupkan TV untuk mencari berita tentang bom tersebut, tidak saya duga bahwa seluruh stasiun TV menayangkan kejadian ini, hampir semalaman kejadian yang dikenal dengan Bali Black Bombing menghiasi layar kaca. Wow potongan-potongan cuplikan berita dalam televisi tersebut betul-betul mengerikan, ternyata kejadian ini lebih hebat dari yang saya perkirakan. Satu pikiran yang terlintas saat itu.."Edan yang ngeBom".
Image Hosting by Picoodle.com
Keeseokan harinya hari Minggu 13 Oktober saya mendapat tugas siang di RSUP Sanglah, situasi UGD sudah kondusif, rekan-rekan kerja saling bercerita tentang kejadian semalam. Seorang rekan mengajak untuk mengunjungi kamar mayat, segera saya ambil jas kerja dan segera bergegas ke Ruang yang paling ditakuti penghuni Rumah Sakit. Sesampai disana saya betul-betul terkejut, entah dengan cara bagaimana saya menggambarkannya, mayat hangus gosong bertumpuk dimana-mana, baunya menyengat tidak karuan. Melihat saya berseragam rumah sakit Tentara yang berjaga mempersilahkan saya masuk kedalam, wow gambaran didalam lebih ekstrim lagi. Untuk orang yang baru bekerja 6 bulan dirumah sakit pemandangan begini membuat isi perut saya ingin keluar, untung bisa saya tahan.

Saya sempat menjadi sukarelawan hari itu dengan menaruh balok es di atas tumpukan mayat-mayat yang tidak berbentuk tersebut, ada yang otaknya keluar arena tempurung kepalanya pecah, ada yang sisa potongan badan atas saja, pokoknya macam-macam. Lantai kamar mayat basah oleh es yang mencair, bahkan masuk di sela-sela sepatu kerja saya karena dibeberapa tempat ada yang sampai tergenang cukup dalam. Hampir sejam lamanya saya berada di tempat tersebut, karena sudah merasa cukup lama meninggalkan tempat kerja, saya kemudian kembali dan bercerita kepada kawan-kawan satu ruang kerja, kelihatannya mereka sudah menunggu saya untuk mengabarkan keadaan kamar mayat.

Mulai dari hari itu sampai sekitar dua bulanan RS Sanglah menjadi sangat ramai oleh Sukarelawan, Aparat Kepolisian, Militer dan lain-lain. Beberapa kali juga saya sempat turun tangan menjadi sukarelawan, bahkan sempat juga menjadi tim identifikasi mayat dengan tugas me-ronsen kepala-kepala mayat karena ada salah satu keluarga korban membawa sample foto ronsen kepala yang ternyata ada tambalan gigi.

Betul-betul pengalaman yang tidak akan saya lupakan seumur hidup. Mudah-mudahan kejadian seperti ini tidak akan terulang di Bumi ini. Dan semoga keluarga korban yang ditinggalkan selalu dikaruniai kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.

Baca Juga Yang Ini



7 comments:

  1. dan saya berada di Sby saat ini. Orangtua saya sedang dalam perjalanan ke Hard Rock Cafe, sementara teman saya terjebak di dekat lokasi kejadian. Sebulan pasca pengeboman saya mewawancarai sejumlah pekerja di sekitaran Kuta, dan ternyata lebih banyak cerita mistis aka horornya ketimbang isak tangis. Mungkin mereka bukan korban langsung... Dan mungkin saja mereka berbohong untuk menakuti saya :(

    ReplyDelete
  2. Apa ga trauma dengan pemandangan di Sanglah waktu itu bli?

    ReplyDelete
  3. Salut.. anda termasuk sukarelawan, saya blm tentu berani :)
    Perut pasti dah mual2 kalo saya..

    ReplyDelete
  4. salut bgt... ingin rasanya sy bs sprti anda

    ReplyDelete
  5. ketutnusa@gmail.comTuesday, 14 October, 2008

    Wah...bangga nih dijaman sekarang ini masih ada seorang bli putu di Bali yg mau jadi sukarelawan, tiang benar2 salute.
    masih terngiang2 sampe sekarang ya bli atas kejadian itu ?
    nyan pasti bli kal makatang karma ane melah.

    ReplyDelete
  6. ketutnusa@gmail.comTuesday, 14 October, 2008

    Wah...bangga nih dijaman sekarang ini masih ada seorang bli putu di Bali yg mau jadi sukarelawan, tiang benar2 salute.
    masih terngiang2 sampe sekarang ya bli atas kejadian itu ?
    nyan pasti bli kal makatang karma ane melah.

    ReplyDelete
  7. @Fenny : Cerita mistis memang banyak saat itu tante Fenny, di Sanglah apa lagi, lain kali kita cerita offline tentang ini yach :D

    @Bli Devari : Lumayan juga dampaknya bagi psikologis, selain ga enak makan tidur juga jadi tidak nyenyak.

    @Wawan : sama..saya juga mual, tetapi rasa ingin tahu dan dorongan rasa kemanusiaan lumayan mengalahkan rasa mual dan pening itu.

    @Li2k : Wah..jangan terlalu memuji, kepala saya yang besar jadi tambah besar, kasihani saya tidak ada dana untuk beli helm baru ber-size besar.

    @Bli Ketut Nusa : Terima kasih banyak Bli atas pujian dan doa-nya. Kadang saya masih suka terngiang, apalagi saat mengikuti perayaan mengenang kejadian itu tiap tahun di Ground Zero. Pada saat saya menulis ini juga ada liputannya komplit di TV one, saya jadi ingat kembali saat-saat itu.

    ReplyDelete