Custom Search

KUNJUNGI JUGA :

Blog Radiografer Indonesia

28 April 2008

Penelitian Bucky Table Kecil-kecilan


Beberapa hari yang lalu saya membuat foto Thoracolumbal dengan teknik yang saya adopsi dari senior saya Bli Made Purwa alumni ATRO Depkes Semarang Angkatan 8 (foto dapat dilihat dibawah). Bliau pernah menunjukan kepada saya membuat foto Thoracolumbal menggunakan film 30x40 yang dibagi menjadi 2 menggunakan Bucky Table yang titik bidiknya tidak ditengah-tengah meja.

Namun masalahnya hasil yang saya buat jauh berbeda dengan hasil beliau dulu, hasil saya cenderung putih seperti kurang faktor eksposi. Hal tersebut menggelitik hati saya untuk melakukan eksperimen kecil-kecilan dengan rumusan masalah mengapa hasil saya berbeda dengan yang bliau buat, padahal faktor eksposi yang saya berikan pada saat tersebut adalah standar Thoracolumbal.


Gambar 1. Bli Made Purwa dalam lingkaran

Tekniknya akan saya jelaskan sebagaimana berikut :

1.Film 30x40 dimasukan seperti biasa dalam posisi membujur ke dalam Bucky Table, titik tengah Kaset tetap pada titik tengah Bucky Table :


Gambar 2. Penempatan titik tengah kaset dan bucky

Screen yang saya gunakan berjenis Green Emiting dan Film yang digunakan berjenis Green Sensitive .

gambar 3. kaset

2.Titik bidik diatur di pertengahan dari pembagian kaset 30x40, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4 di bawah. Dalam gambar ini posisi titik bidik diletakan di kiri disiapkan untuk posisi AP

Gambar 4. Titik bidik AP

Penentuan titik bidik BUKAN di tengah meja seperti biasa seperti yang terlihat dalam gambar

Gambar 5. Titik bidik standar thoracolumbal

Untuk posisi lateral titik bidik di geser ke kanan :

Gambar 6 Titik Bidik Lateral

3. Setelah titik bidik dan Kaset disejajarkan, pasien dipersilahkan naik ke Meja Pemeriksaan. Penentuan titik bidik pada pasien HANYA dilakukan dengan menggeser Meja Pemeriksaan oleh karena Tabung dan Kaset sudah dalam posisi yang tepat. Sentrasi pada Procesus Xiphoideus.

4. Faktor Eksposi yang saya berikan kV 77 mA 200 dan S 0,1 ini adalah faktor eksposi standar untuk pasien seukuran saya (tinggi 168 berat 70 cukup atletis bukan?)

Gambar 7. faktor Eksposi

5. Hasilnya seperti ini :

Gambar 8. Radiograf 1

6. Menurut saya radiograf ini terlalu putih, tidak cantik untuk sebuah radiograf Thoracolumbal, demikian juga menurut radiolog yang saya konsulkan, beliau meminta saya untuk mengulang kembali.

Saya ulang kembali dengan menaikan faktor eksposi sedikit lebih besar, hasilnya seperti ini :

Gambar 9. Radiograf 2

Tetap tidak berubah secara signifikan walaupun faktor eksposi telah dinaikan. Jadi hari itu saya telah membuang 2 film.

Gambar 10. Kedua Radiograf

Berat rasanya untuk mengulang kembali, mengingat jumlah radiasi yang telah saya berikan ke Pasien dan jumlah film yang telah saya gunakan. Saya tunjukan kedua foto tersebut kepada Radiolog dengan penjelasan apa adanya. Beliau bilang ulang kembali dan jika tidak bisa membuat foto yang dibagi dua buat saja satu film satu proyeksi. Waduh ini merupakan tamparan bagi saya.

Di Kamar gelap saya berfikir dimana letak kesalahan saya?? Mengapa hasilnya seperti ini padahal dulu Bli Made Purwa membuat persis sama tetapi hasil beliau lebih baik.

---lanjutan---

Saya berikan penjelesan sedemikian rupa kepada Pasien, syukur pasien tersebut mengerti dan bersedia diulang kembali. Sempat saya berfikir untuk mengunakan teknik lama saya yaitu pembagian film menjadi 2 dengan cara menggeser posisi kaset dalam bucky table dengan titik bidik di tengah meja pemeriksaan, akan tetapi teknik yang lagi saya kerjakan ini menggelitik rasa penasaran saya untuk menyelesaikannya. Akhirnya saya putuskan untuk menyelesaikan teknik ini, saya akan mencobanya lagi, bagus atau tidak bagus itu urusan belakang, yang penting rasa penasaran saya terobati dan ada ilmu baru yang saya dapatkan.

Prosedur saya ulangi kali ini kV mA dan S saya naikkan tinggi, untuk AP saya beri 80 300 dan 0,08, lateral 90 300 dan 0,16. Setelah expose saya tunggu hasilnya dikamar gelap dengan jantung berdegup persis rasanya seperti sedang ujian waktu kuliah dulu. Dan hasil yang keluar cukup bagus, densitas dan kontrasnya cukup, oleh Radiolog pun dinilai cukup dan layak baca. Sayang sekali saya tidak bisa mendokumentasikannya karena hasilnya langsung diambil oleh pasien. Senang rasanya ujian ini akhirnya selesai walupun melalui perjuangan yang melelahkan.

Selang beberapa hari kemudian saya bertemu dengan Bli Made Purwa dan sharing masalah ini, bliau bilang untuk teknik seperti ini faktor eksposi memang harus diatur lebih besar dari biasanya, mengapa demikian? bliau tidak menjelaskan lebih lanjut lagi dan saya juga tidak bertanya lebih jauh lagi

Iseng - iseng saya buka skripsi Tugas Akhir D3 saya dulu yang kebetulan meneliti tentang Bucky, saya dapatkan bahwa tipe Grid Bucky Table umumnya Linier tanpa ada nilai rasionya atau nilai rasionya tak terhingga (~), yang artinya titik bidik tidak harus di tengah grid. Secara logika teknik ini akan menghasilkan gambaran yang sama dengan teknik foto yang titik bidiknya berada ditengah bucky, tapi pada kenyataannya yang saya dapatkan berlainan, dimanakah letak kesalahan saya??


Kesimpulan dari tulisan ini adalah :

1. Perbedaan hasil radiograf saya dengan bli Made Purwa terjadi karena kurang faktor eksposi.

2. Logika saya ternyata salah, saya menganggap oleh karena tipe grid bucky table linier maka nilai eksposi di tengah dan di pinggir meja bisa diSAMA kan.

3. Teknik ini dapat menghemat pengeluaran film jika dilakukan dengan benar.

Saran :
1. Jangan melakukan teknik ini jika faktor radiasi yang diterima pasien menjadi hal yang utama.

2. Naikan faktor eksposi jika bersikeras melakukan teknik ini.


Mohon penjelasan dan sharingnya bagi rekan-rekan yang punya pengalaman seperti ini. Komentar dan tanggapan rekan-rekan dapat ditulis dalam kolom komentar di bawah ini. Terima Kasih.

Baca Juga Yang Ini



4 comments:

  1. Saya pernah melakukan pemeriksaan LS dengan cara yang sama dengan Bli Putu. Dan memang hasilnya bagus.
    Kalau menurut saya ada dua kemungkinan kenapa hasil fotonya under ekspose :
    1. Mungkin Bli Putu tidak mengatur control table ke mode untuk bucky tanle, sehingga sewaktu diekspose grid bucky tidak bergerak dan banyak sinar X terserap di Bucky.
    2. Jika Grid yang ada di kontrol table, tidak bisa bergerak, maka jika CR tidak berada di pertengahan grid, maka akan terjadi yang dinamakam "OFF Centering", jadi sebagian besar X-ray akan terserap di grid, sehingga gambaran akan putih seperti yang terjadi pada Bli Putu.

    Kalau saya pernah melaksanakan metode 2 ekspose dalam 1 film, tetapi CR tetap pada pertengahan Meja/Grid, tetapi peletakkan kaset tidak dipertengahan. Tetapi disesuaikan.

    ReplyDelete
  2. @Wahyu : Trims komentarnya

    Bisa jadi emang bucky sini yang rusak, karena saya yakin logika saya benar.

    Menurut Wahyu grid dalam bucky table umunya tipenya apa??

    ReplyDelete
  3. mas putu org yg ga' mau putus asa,,aq salut,,
    tapi,,,kalau,,,
    ketauan pihak bapeten bahaya tuch mas,,heee,,heeee,,,
    ICRP ikut marah juga kali ya,,,
    sukses tru to mas putu,,,
    keep rockin yeah,,,,

    ReplyDelete
  4. @ Alam : Trims supportnya! Masalah ICRP, yang penting pasien ga protes itu sudah cukup, hukum diIndonesia kan orientasinya masih segitu-segitu aja.

    ReplyDelete