Custom Search

KUNJUNGI JUGA :

Blog Radiografer Indonesia

28 April 2008

Penelitian Bucky Table Kecil-kecilan


Beberapa hari yang lalu saya membuat foto Thoracolumbal dengan teknik yang saya adopsi dari senior saya Bli Made Purwa alumni ATRO Depkes Semarang Angkatan 8 (foto dapat dilihat dibawah). Bliau pernah menunjukan kepada saya membuat foto Thoracolumbal menggunakan film 30x40 yang dibagi menjadi 2 menggunakan Bucky Table yang titik bidiknya tidak ditengah-tengah meja.

Namun masalahnya hasil yang saya buat jauh berbeda dengan hasil beliau dulu, hasil saya cenderung putih seperti kurang faktor eksposi. Hal tersebut menggelitik hati saya untuk melakukan eksperimen kecil-kecilan dengan rumusan masalah mengapa hasil saya berbeda dengan yang bliau buat, padahal faktor eksposi yang saya berikan pada saat tersebut adalah standar Thoracolumbal.


Gambar 1. Bli Made Purwa dalam lingkaran

Tekniknya akan saya jelaskan sebagaimana berikut :

1.Film 30x40 dimasukan seperti biasa dalam posisi membujur ke dalam Bucky Table, titik tengah Kaset tetap pada titik tengah Bucky Table :


Gambar 2. Penempatan titik tengah kaset dan bucky

Screen yang saya gunakan berjenis Green Emiting dan Film yang digunakan berjenis Green Sensitive .

gambar 3. kaset

2.Titik bidik diatur di pertengahan dari pembagian kaset 30x40, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4 di bawah. Dalam gambar ini posisi titik bidik diletakan di kiri disiapkan untuk posisi AP

Gambar 4. Titik bidik AP

Penentuan titik bidik BUKAN di tengah meja seperti biasa seperti yang terlihat dalam gambar

Gambar 5. Titik bidik standar thoracolumbal

Untuk posisi lateral titik bidik di geser ke kanan :

Gambar 6 Titik Bidik Lateral

3. Setelah titik bidik dan Kaset disejajarkan, pasien dipersilahkan naik ke Meja Pemeriksaan. Penentuan titik bidik pada pasien HANYA dilakukan dengan menggeser Meja Pemeriksaan oleh karena Tabung dan Kaset sudah dalam posisi yang tepat. Sentrasi pada Procesus Xiphoideus.

4. Faktor Eksposi yang saya berikan kV 77 mA 200 dan S 0,1 ini adalah faktor eksposi standar untuk pasien seukuran saya (tinggi 168 berat 70 cukup atletis bukan?)

Gambar 7. faktor Eksposi

5. Hasilnya seperti ini :

Gambar 8. Radiograf 1

6. Menurut saya radiograf ini terlalu putih, tidak cantik untuk sebuah radiograf Thoracolumbal, demikian juga menurut radiolog yang saya konsulkan, beliau meminta saya untuk mengulang kembali.

Saya ulang kembali dengan menaikan faktor eksposi sedikit lebih besar, hasilnya seperti ini :

Gambar 9. Radiograf 2

Tetap tidak berubah secara signifikan walaupun faktor eksposi telah dinaikan. Jadi hari itu saya telah membuang 2 film.

Gambar 10. Kedua Radiograf

Berat rasanya untuk mengulang kembali, mengingat jumlah radiasi yang telah saya berikan ke Pasien dan jumlah film yang telah saya gunakan. Saya tunjukan kedua foto tersebut kepada Radiolog dengan penjelasan apa adanya. Beliau bilang ulang kembali dan jika tidak bisa membuat foto yang dibagi dua buat saja satu film satu proyeksi. Waduh ini merupakan tamparan bagi saya.

Di Kamar gelap saya berfikir dimana letak kesalahan saya?? Mengapa hasilnya seperti ini padahal dulu Bli Made Purwa membuat persis sama tetapi hasil beliau lebih baik.

---lanjutan---

Saya berikan penjelesan sedemikian rupa kepada Pasien, syukur pasien tersebut mengerti dan bersedia diulang kembali. Sempat saya berfikir untuk mengunakan teknik lama saya yaitu pembagian film menjadi 2 dengan cara menggeser posisi kaset dalam bucky table dengan titik bidik di tengah meja pemeriksaan, akan tetapi teknik yang lagi saya kerjakan ini menggelitik rasa penasaran saya untuk menyelesaikannya. Akhirnya saya putuskan untuk menyelesaikan teknik ini, saya akan mencobanya lagi, bagus atau tidak bagus itu urusan belakang, yang penting rasa penasaran saya terobati dan ada ilmu baru yang saya dapatkan.

Prosedur saya ulangi kali ini kV mA dan S saya naikkan tinggi, untuk AP saya beri 80 300 dan 0,08, lateral 90 300 dan 0,16. Setelah expose saya tunggu hasilnya dikamar gelap dengan jantung berdegup persis rasanya seperti sedang ujian waktu kuliah dulu. Dan hasil yang keluar cukup bagus, densitas dan kontrasnya cukup, oleh Radiolog pun dinilai cukup dan layak baca. Sayang sekali saya tidak bisa mendokumentasikannya karena hasilnya langsung diambil oleh pasien. Senang rasanya ujian ini akhirnya selesai walupun melalui perjuangan yang melelahkan.

Selang beberapa hari kemudian saya bertemu dengan Bli Made Purwa dan sharing masalah ini, bliau bilang untuk teknik seperti ini faktor eksposi memang harus diatur lebih besar dari biasanya, mengapa demikian? bliau tidak menjelaskan lebih lanjut lagi dan saya juga tidak bertanya lebih jauh lagi

Iseng - iseng saya buka skripsi Tugas Akhir D3 saya dulu yang kebetulan meneliti tentang Bucky, saya dapatkan bahwa tipe Grid Bucky Table umumnya Linier tanpa ada nilai rasionya atau nilai rasionya tak terhingga (~), yang artinya titik bidik tidak harus di tengah grid. Secara logika teknik ini akan menghasilkan gambaran yang sama dengan teknik foto yang titik bidiknya berada ditengah bucky, tapi pada kenyataannya yang saya dapatkan berlainan, dimanakah letak kesalahan saya??


Kesimpulan dari tulisan ini adalah :

1. Perbedaan hasil radiograf saya dengan bli Made Purwa terjadi karena kurang faktor eksposi.

2. Logika saya ternyata salah, saya menganggap oleh karena tipe grid bucky table linier maka nilai eksposi di tengah dan di pinggir meja bisa diSAMA kan.

3. Teknik ini dapat menghemat pengeluaran film jika dilakukan dengan benar.

Saran :
1. Jangan melakukan teknik ini jika faktor radiasi yang diterima pasien menjadi hal yang utama.

2. Naikan faktor eksposi jika bersikeras melakukan teknik ini.


Mohon penjelasan dan sharingnya bagi rekan-rekan yang punya pengalaman seperti ini. Komentar dan tanggapan rekan-rekan dapat ditulis dalam kolom komentar di bawah ini. Terima Kasih.

Baca selengkapnya......

Berita dari Semarang

Saya baru saja membaca koran Jawa Pos tanggal 25 April 2008, di halaman depannya terpampang gambar sebuah Angkot terjatuh menimpa atap rumah penduduk, wah terkejut juga melihatnya, lokasinya di Candisari Semarang. Rekan-rekan yang pernah ke Semarang apakah tahu dimana lokasi persisnya?? Saya sudah agak lupa dengan denah kota Semarang, sudah hampir 7 tahun saya meninggalkan kota itu.


Baca selengkapnya......

27 April 2008

Tanaman Obat Kanker



Rekan-rekan Ada yang sudah dengar info Tanaman ini nggak ? Saya dapat info dari forum avanzaxenia.net. Mohon tanggapan dan sharingnya.





Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi.
Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman "KELADI TIKUS" (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain.

Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia.

Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris , Australia , Selandia Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia.

Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.
"Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan, "jelas Patoppoi.

Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysiauntuk membeli teh tersebut,"ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia , secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996.
"Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia ," kenang Patoppoi sambil tersenyum. Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.

Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana . Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.

Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi.
Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut.
"Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu.

Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal," lanjut Boni.

Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ," kata Patoppoi. Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi.

Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali."Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa.

Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo melalui fax untukmenginformasik an bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia.
Kemudian Dr . Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung Patoppoi.
Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesiadan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia. Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos,Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut. "Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo.


Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus di operasi.
Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos.
Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.

Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang , Malaysia . Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia , Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia.
Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi
revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya . Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care Indonesia , yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta , telp. 021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo. Cancer Care Malaysiatelah mengembangkan bentuk
pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi
ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita," kata Boni.

Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yangmenanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia , sekitar 40-60 Ringgit Malaysia ," lanjut Boni.
"Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik
keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjangan waktu pembayaran. " tambahnya.

Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabayaini. Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah.
Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini
menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi.

Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia.
Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-kun" atau dokter-dukun.
"Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern," kata dokter tersebut.

Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil
dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut.
"Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus,
dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung Boni sambil tertawa.

Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak empan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.

Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis.

Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.

Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial
"Cancer Care Indonesia " beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta , telp : 021-4894745,



Baca selengkapnya......

Penelitian membaca tulisan

Waktu saya lagi rapi-rapi data di komp, eh ketemu artikel ini, akhirnya saya posting aja disini. Artikel ini kiriman kawan saya Aris orang IT ex BIMC Bali, dikirim kepada saya tanggal 6 Okt 2003, wah cukup lama juga.

----
Good day gyus,

Tluiasn ngga hraus baner ynag pnteing bsia diabca....
Ini sagnat menraik

Menuurt sbeauh penilitean di Cmabrigde Uinervtisy, tdaik mejnadi
maslaah bgaimanaa urtaun hufur-hufur di dlaam sebauh kaat, ynag palngi
pnteing adlaah leatk hruuf partema dan terkhair itu bnaer. Siasnya
dpaat brantaaken saam skelai dan kmau maish dpaat mebmacanya tnpaa
msaalah. Hal ini kerana oatk masunia tdaik mambeca seitap huurf
msaing-msaing, tatepi kaat kesuleruhan.
Manejkubakn naggk?

GGOO
-----

Bagaimana?? Ada Tanggapan dari rekan-rekan??
Silahkan ditulis dalam kolom komentar :)

Baca selengkapnya......

23 April 2008

Putu Adi bersama Mahasiswa praktek ATRO Depkes Jakarta...tambahan foto!!

Ini adalah foto saya bersama mahasiswa praktek dari ATRO Depkes Jakarta tingkat 3, mereka ada 4 orang melaksanakan praktek hingga tanggal 30 maret 2008


keterangan : bawah dari kiri : Pande Nova si Punk Rocker, Widhi si Artis Minded, dan saya sendiri Putu Adi. Atas : Yoga si Polos dari Desa





Yang ini sebelum perpisahan :



Pesan untuk adik - adik praktek, Rajin - rajin belajar jangan nakal - nakal, jangan suka ngerjain senior ya.


Baca selengkapnya......

Jawaban tentang Artefak dari Pak Nova Rahman...Edited 25 April 2008


Ini adalah jawaban Pak Nova Rahman (www.nova-rahman.blogspot.com) mengenai Artefak yang saya kemukakan beberapa waktu yang lalu. Pak Nova mengirimkannya lewat EMail dalam bentuk PDF, saya hanya Copy-Paste text-nya saja image tidak bisa saya copy (tapi setelah di beri tutorial oleh Pak Nova Rahman sekarang saya bisa menampilkan gambarnya). Ini Dia :





----------

Ini jawaban mengenai fenomena yang Putu kemukakan di blog :
Fenomena Artefact yang Putu temukan disebut dengan Static Artifact, Apa dan
bagaimana terjadinya Static Artifact berikut ulasan saya :
Static Artifact
Static Artifact disebabkan oleh electrical
discharge (perpindahan arus listrik), biasanya
dari jari kita menuju ke film. Artefact seperti ini
biasanya mempunyai dua komponen, pertama,
terdapat fog yang tak beraturan yang terlihat
seperti radiasi yang keluar dari titik hitam
sebagai asal dari artefak yang disebut dengan
The initial discharge point. Hal ini merupakan
penyebaran light fog dari cahaya yang
berhubungan dengan percikan awal dari jari kita
ke film. Yang kedua, terdapat perpindahan
listrik statis (the discharge of static electricity)
yang menyebabkan terjadinya gambaran yang
bercabang dari titik awal perpindahan arus (the
initial discharge point).
Cara mencegahnya adalah, pegang sebuah benda yang terbuat dari besi/metal sebelum
memindahkan film dari kaset, yang bertujuan untuk menghindari terjadinya listrik statis
karena memegang besi/metal sebagai sebuah upaya grounding. Frekuensi Static Artifact
tergantung pada lantai kamar gelap dan jenis sepatu yang kita gunakan. Lantai yang
terbuat dari keramik yang tidak menghantarkan listrik dengan baik akan menyebabkan
terjadinya listrik statis, apalagi jika saat radiografer bertugas di kamar gelap,
menggunakan sepatu yang alasnya tidak terbuat dari karet.

------------

Terima Kasih sedalam-dalamnya kepada Pak Nova untuk kesediannya membagi ilmu dan ijin posting yang diberikan kepada saya.

Komentar dapat di Tulis di kolom komentar di bawah.

Salam



Baca selengkapnya......

19 April 2008

Rapidshare lagi Happy Hour

Bagi rekan - rekan yang suka download lewat rapidshare, ada berita baik rapidshare kelihatannya lagi menerapkan happy hour, sy dari kemarin download terus pake yang free bisa rangkap tiga dan tidak perlu nunggu kode, jadi silahkan di manfaatkan, jarang-jarang loh rapidshare kaya gini, tuh lihat sy lagi download software Drum sebesar 100mb. Tapi kadang - kadang muncul juga kodenya, caranya ya refresh terus. Oke Selamat mencoba!

Baca selengkapnya......

Peraturan Pemerintah tentang Uang Makan bagi Radiografer

Untuk rekan-rekan yang dinas di pemerintahan, sebagian besar pasti sudah menerima Uang makan dari pemerintah yang di masukan ke Gaji, besarnya 10rb rupiah perhari, dalam sebulan di hitung maksimal 22hari kerja.


Tapi spesial untuk radiografer dapat tambahan sebesar 5rb rupiah lagi jadi total yang diperoleh sebesar 15rb rupiah dalam satu hari kerja. Beberapa rekan mungkin ada yang tidak dapat tambahan tersebut seperti saya, dan bahkan ada yang tidak tahu sama sekali. Nah disini saya cantumkan potongan peraturan pemerintah yang mengatur hal tersebut, mudah2an dengan ini rekan-rekan yang tidak tahu menjadi tahu, dan yang tidak dapat mendapat motivasi untuk lebih tekun mengurus ke Bagian keuangan di Instansinya

Di Tempat saya bekerja saya tidak mendapatkan tambahan tersebut dengan alasan yang tidak saya ketahui, oleh atasan saya di kator sudah di usahakan dan di perjuangkan tetapi sampe sekarang belum ada kabar menggembirakan.

Memang susah sekali kalo berhubungan dengan uang, Kalo ada di ributkan kalo tidak ada apa lagi....hhh....

Bagi rekan-rekan yang sudah dapat tambahan ini tolong diShare disini pengalaman, tips dan triknya.

Terima Kasih.





Baca selengkapnya......

Sedikit view dari Bali

Ini adalah gambar-gambar panorama BALI yang saya ambil sendiri dengan digicam tua kesayangan saya






Tanah Lot - Melasti




Barong dan Rangda




Ubud



Taman Ujung Karangasem




Pulaki - Northern side of Bali

Baca selengkapnya......

Artefak - Mohon Info

Pada tanggal 28 Februari 2008, Rekan saya Siti Murtiningsih Radiografer dari RSU Graha Asih Kuta Bali memperlihatkan beberapa foto lumbosacral yang di dalamnya berisi beberapa Artefak yang menurut saya Aneh, dan sampai saat ini belum terjawab oleh saya apa penyebabnya.

Jika rekan - rekan ada yang mengerti tentang Artefak ini, apa penyebabnya dan bagaimana solusi agar tidak terjadi seperti ini, mohon diposting disini, sumber pasti saya cantumkan. Terima kasih.





Komentar bisa ditulis di halaman komentar, di message board, atau ke email, silahkan



Baca selengkapnya......

Berita Jawa Post 14 April 08, ada kasus mark up CT Scan

Tuh kena lagi khan, masa alat CT Scan yang begitu penting di pake main-main dalam pengadaannya, ada-ada saja panitianya.

Wartawan juga bilang Multi Slice CT Scan ini adalah alat foto jantung, kayanya kurang tepat sebab MSCT bisa untuk Whole Body, Betul khan rekan2??

Baca selengkapnya......

Putu Adi Radiografer Bali

Oleh karena masukan dari berbagai pihak maka dengan ini http://putuadisusanta.blogspot.com saya buka. Dalam kesempatan ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Nova Rahman (www.nova-rahman.blogspot.com) dan Bung Wahyu Hidayat (www.posradiografer.blogspot.com) untuk Supportnya. Demi kemajuan bersama mohon kritik, saran dan bantuannyadari rekan - rekan pengunjung sekalian. Terima Kasih

Salam

putu Adi

Baca selengkapnya......